Rapat pleno Komisi Pemilihan Umum Provinsi Jawa Barat menetapkan hasil Pemilihan Kepala Daerah setempat. Pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf (Hade) menjadi gubernur dan wakil gubernur terpilih Jawa Barat. Pasangan ini meraup 7.287.647 suara dari 18.820.665 pemilih atau 40,50 persen suara.
Pasangan Agum Gumelar-Nu’man Abdul Hakim meraih 34,55 persen suara. Sementara pasangan Dani Setiawan dan Iwan R. Sulanjana memperoleh 24,95 persen suara. Hasil perhitungan ini tidak jauh berbeda dengan hasil penghitungan dengan metode quick count yang dilakukan Lembaga Survey Indonesia.
Hasil penghitungan suara tersebut disetuji dua saksi dari pasangan Dani Setiawan-Iwan R. Sulanjana dan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf. Sedangkan saksi daru saksi dari Agum-nu’man tidak bersedia menandatangani berita acara hasil rapat pleno tersebut. Jika akan mengajukan keberatan, kubu Agum-Nu’man punya waktu selambatnya tiga hari setelah rapat pleno kepada Mahkamah Agung. Tingkat partisipasi pemilih masyarakat pada Pilkada Jabar mencapai lebih dari 67,3 persen.
Kemenangan pasangan Hade mengejutkan. Betapa tidak, dua pasangan yang kalah dalam Pilkada didukung partai-partai besar. Tak heran jika berbagai kalangan tak mengunggulkan pasangan yang diusung Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Amanat Nasional itu. Namun, ternyata pasangan muda ini mampu membalikkan keadaan. Masyarakat Jabar lebih menginginkan lelaki yang biasa disapa Pak Ustad untuk menjadi gubernur. Di Kota Cirebon, misalnya. Kota yang berada di pesisir utara itu sepenuhnya dimenangkan Heryawan.
Kemenangan Heryawan menjadi gubernur tak lepas dari kerja jaringan PKS. Penyampaian visi mereka dilakukan dengan apa yang mereka sebut sebagai teknik direct selling. Kader-kadernya yang terlatih mendatangi rumah-rumah warga dan menyosialisasikan konsep-konsep perubahan untuk masyarakat. Praktek ini ternyata efektif. Heryawan mendulang suara terbesar di Kota Cirebon. Padahal, dalam Pemilu Legislatif 2004, kota ini dikuasai oleh partai pendukung utama Agum Gumelar, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.
Kota Cirebon hanyalah salah satu contoh betapa Heryawan mampu merebut pengaruh dari daerah yang sebelumnya sudah dinyatakan sebagai basis partai pendukung kandidat lain. Heryawan hanya orang baru yang sama sekali tidak berasal usul dengan kekuasaan politik masa lalu. Terakhir, ia menjabat Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta. Pria berkacamata ini memang asli putra daerah Sukabumi.
Sukses pasangan Hade juga diyakini ditentukan oleh usia keduanya yang masih relatif muda. Keduanya masing-masing berusia 41 tahun. Jauh lebih muda ketimbang usia dua kandidat lain. Salah seorang pemilih muda bernama Dewi Puji Lestari mengaku memilih pasangan Hade karena pasangan ini masih muda. Mahasiswa berusia 21 tahun sekaligus aktivis dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia menilai idealisme perubahan hanya dapat terwujud di tangan kaum muda. Untuk membuktikannya, mereka harus diberi kesempatan menjadi pemimpin.
Pandangan seperti yang dikemukakan Dewi sudah menjadi umum di kalangan pemuda. Apalagi aktivis-aktivis kampus, khususnya yang berorientasi agama. Mereka memiliki afiliasi secara kultural dengan PKS yang menjadi tulang punggung pasangan Hade. Tak hanya kaum intelektual yang memakai alasan usia untuk memilih. Sofyan, seorang pencukur cukur rambut pun berpikiran yang sama.
Menurut Ketua Dewan Pimpinan Wilayah PKS Jabar, Taufik Ridlo mengaku ada dua modal dasar yang menentukan kemenangan Hade. Modal pertama adalah soliditas jaringan PKS. Di mata sejumlah pengamat, kenyataan soliditas ini terlihat disaat kampanye. Pendukung pasangan Hade bukan tampak seperti kerumunan, melainkan seperti barisan. Modal berikutnya adalah popularitas Dede Yusuf. Di mata ibu-ibu majelis taklim, sosok Dede cukup menarik perhatian. Melalui jaringan yang terorganisir, modal popularitas ini pun digarap dengan baik.
Ibu-ibu majelis taklim yang berada di Bogor ini adalah contohnya. Secara kultural, apa yang dilakukan mereka dekat dengan ideologi PKS. Pada saat yang sama, mereka begitu menyukai sosok Dede Yusuf. Pendekatan melalui jaringan partai dengan popularitas Dede Yusuf telah menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Di Kota Bogor, pasangan Hade menang telak. Lebih dari separuh pemilih keduanya. Padahal, jika dilihat dari hasil Pemilu 2004, daerah ini dikuasai oleh Partai Golkar yang mengusung kandidat lain.
Sejumlah pengamat melihat fenomena menangnya Hade sebagai sesuatu yang tidak biasa. Sebab, secara teoritis, orang yang sudah dikenallah yang akan dipilih. Berdasarkan kenyataan ini pakar psikologi sosial, Untung Kahar melihat ada perubahan pola pikir di kalangan masyarakat. Hal ini terlihat dari hasil penghitungan suara di Kota Bandung. Hade secara signifikan telah menjungkalkan lawan-lawan politiknya. Padahal, dalam Pemilu 2004, kota ini dimenangi oleh partai-partai besar yang menjadi pendukung lawan-lawan politik Hade. Dengan kemenangan ini, praktis Hade telah menghapus absennya peran pemuda dalam kepemimpinan di dunia politik selama ini.(BEY)
Sumber: http://metrotvnews.com