Penerbit Islam muncul seperti jamur di musim hujan, tetapi dalam jangka waktu tertentu pun kebanyakan dari semua penerbit itu berguguran seperti dedaunan di musim gugur. Sedikit penerbit Islam yang bertahan dan kokoh bertengger di puncak supremasi penerbit buku Islam.
Jika Anda bertanya, bukankah sekarang sudah banyak penerbit Islam besar dan telah lama berdiri, seperti mizan, gip, pustaka alkautsar, dan lain sebagainya?
Penerbit-penerbit itu belum lama, mizan usianya baru 25 tahun, waktu yang tidak cukup untuk membuktikan ia akan bisa bertahan sampai seratus tahun. Gema Insani Press pun belum layak dikatakan sebagai penerbit Islam yang bertahan lama, karena usianya pun belum melintasi satu generasi. Demikian pula pustaka al-Kautsar, Qisthi, almahira, Maghfirah, dan lain-lainnya, mereka belum membuktikan diri punya struktur dan kultur manajerial yang bisa membuatnya bertahan selama ratusan tahun seperti kelompok penerbit-penerbit buku dan koran besar di Indonesia.
Apa Visi Para Owner Penerbit Islam itu?
Ini adalah pertanyaan yang layak dipertanyakan oleh para karyawan di penerbit-penerbit Islam. Dalam ucapan dan di atas kertas, visi mereka terkadang mulia. Mereka “menyanyikan” lagu dakwah, syiar Islam, tetapi pada tataran konsep manajerial, landasan prinsip pemasaran, dan sistem pengelolaan perusahaan, tidak membuktikan bahwa mereka mempunyai visi semulia itu.
Orang boleh bangga dengan kolaborasi dakwah dengan bisnis, tetapi hal itu memiliki konsekwensi terbalik yang akan mengorbankan salah satu di antara keduanya. Mendahulukan visi bisnis akan menyingkirkan tujuan dakwah, dan mendahulukan tujuan dakwah akan menurunkan keuntungan material. Tidak ada yang bisa menggabungkan kedua tujuan itu secara proporsional, sebagaimana tidak ada orang yang bisa adil saat mempunyai dua orang istri.
Kebanyakan penerbit Islam adalah milik perorangan (perusahaan keluarga), bukan korporat. Manajemennya pun tidak sesistematis sistem manajemen profesional. Tidak ada perencanaan yang teratur; sistem kerja keroyokan; demi mengejar target kualitas dikorbankan; karyawan digaji berdasarkan hitungan waktu, terlambat masuk satu menit pun gajinya dipotong, sementara pekerjaannya ditetapkan berdasarkan target terbitan; menerbitkan buku terjemahan tanpa hak cipta dari penulis asli; menerbitkan buku yang sangat krusial pertanggungjawaban intelektualnya, yang diterjemahkan oleh mahasiswa Islam semester pertama yang sedang kuliah di Kairo; menggaji karyawan sangat rendah, meski omset perusahaan sudah milyaran; tidak ada jenjang karir yang jelas; nepotisme, asal dari keluarga ‘owner’, meski tidak punya kompetensi bisa langsung jadi manajer; sistem pelayanan konsumen yang sangat buruk, yang seharusnya, moralitas Islami sangat bagus untuk mengikat konsumen setia, tetapi hal itu tidak dilakukan oleh penerbit-penerbit Islam; dan masih banyak hal-hal lain yang menjadi “ciri khas” buruknya manajemen penerbit buku-buku Islam. Dengan semua ciri buruk yang krusial itu, patut dipertanyakan, dakwah apa yang diusung penerbit Islam?
Para ‘owner’ penerbit Islam layak melakukan introspeksi diri tentang semua hal itu, demi survivenya visi dan misi “dakwah” mereka ke depan. Tetapi, kecil kemungkinan mereka membaca tulisan ini, karena mungkin mereka juga malas baca, dan kalau bukan orang terkenal yang menulis, mereka tidak akan memperhatikannya, termasuk tulisan ini, karena yang menulisnya bukan orang terkenal.
curhat yang mantaff..dari lubuk hati yang paling dalam, sedikit ada bau kekecewaan, mungkin mantan pelaku penerbitan islam ya? Asumsi, opini, tercampur jadi satu. Sebagai langkah introspeksi buat semua.
Komentar oleh burhanshadiq — 25 April 2008 @ 4:23 am