Katimin, 35 tahun, adalah salah seorang petugas kurir yang setiap hari mondar mandir keliling jakarta. Dengan sepeda motor Honda Supra X125 baru miliknya, setiap hari dia mengunjungi alamat-alamat yang telah menjadi langganan tetapnya untuk pengiriman barang ke tempat-tempat yang mereka inginkan. Hampir setiap ruas jalan dari ujung barat jakarta sampai ke ujung timur telah dia lalui. Dia sudah hafal semua jalan, berikut lekak lekuk kelokannya. Meski begitu, ada satu hal yang paling menyebalkan bagi dirinya, yaitu, apabila dia sedang ngebut dengan motor barunya, dia tanpa sadar menabrak lubang-lubang besar, jalanan yang tidak rata, sampai tanah liat yang jatuh ke jalanan lalu membentuk benjolan besar yang mengeras. Kalau motor melewatinya, motor terasa seperti melewati polisi tidur kecil yang membuatnya terantuk-antuk.
“Waktu kampanye dulu, aku habis-habisan mendukung Foke dan Priyanto. Mas Gogon (bukan Gogon pelawak yang jadi budak narkoba itu loh…), preman Kampung Baru yang menjadi “Komandan” kampanye Foke mengajakku setengah memaksa, membuat aku tertarik mendukung Foke, apalagi tiap kampanye dikasih duit Rp. 50.000,-. Waah … aku tambah senang…” ujarnya saat mampir ke bengkel untuk setel velg motornya yang jari-jarinya pada bengkok gara-gara sering nabrak lobang.
“Sekarang aku sakit hati banget sama Foke. Pamanku yang jualan barang antik di pinggiran jalan Ahmad Yani Rawasari dia gusur. Padahal dia juga bareng dengan aku, keras mendukung Foke waktu kampanye loh… Eee… taunya setelah berkuasa, kita yang kecil disingkirin… sialan banget… Makanya, setiap kali aku ketemu lobang di jalanan, aku selalu bilang ‘Foke bangsat!’, kalau ketemu lagi ‘Foke keparat’, kalau ketemu lagi ‘Foke anjing…’” Ujarnya emosional.
Rakyat Kecil yang Terkucil
Politik itu memang kejam! Itulah ungkapan yang layak diucapkan untuk para penguasa pembohong, yang waktu kampanye bernyanyi lagu kepentingan rakyat, tetapi setelah mendapat kekuasaan menjadi pengkhianat terhadap rakyat kecil. Bagi yang punya nurani, akan miris melihat tangis ibu-ibu miskin yang rumahnya tergusur. Hati seperti tercabik-cabik melihat anak-anak kecil yang menangis melihat rumah-rumah mereka roboh digusur buldoser. Penggusuran dan pengusiran yang tidak memberikan alternatif solusi, memupuskan semua jerih payah dan kehidupan yang mereka bangun dengan air mata darah. Tetapi, bagi penguasa sombong, rintihan dan erangan mereka hanyalah ‘nyanyian merdu’ sebuah proses kemajuan yang masih samar.
Pengusuran tetap akan berlangsung, selama belum ada ‘Revolusi Rakyat’ yang menggulingkan sistem yang ada saat ini, dan membangun sebuah tatanan baru yang lebih berpihak pada rakyat kecil. Venezuela adalah contoh, serta negara-negara Amerika latin lainnya, banyak memberikan contoh bagi Rakyat bahwa mereka harus melakukan ‘Revolusi’ untuk meraih supremasi mereka di tingkat pemerintahan.